• Download Anz Komik Apk

    Anz Komik adalah aplikasi baca komik gratis dengan lebih dari 1000 judul komik mulai dari Manga, Manhwa dan Manhua yang sudah dirilis dalam versi bahasa Indonesia.

  • Tujuan Pembentukan LBB

    Liga Bangsa-Bangsa beranggotakan 28 negara sekutu dan 14 negara netral. Tujuan pembentukan LBB pada waktu itu adalah untuk:

  • Daftar lagu soundtrack piala dunia (1990-2018)dan piala eropa (2000-2020)

    1.Gianna Nannini dan Edoardo Bennato-Un'estate (World Cup 1990) 1.1 We Are the Champions - Queen (World Cup 1994) 2.Ricky Martin - La Copa De La Vida (World Cup 1998)...

Minggu, 04 Maret 2018

Punya Hobi Berenang? Waspada Penyakit Otitis Eksterna

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Berenang-Doktersehat
Photo Credit: Flickr.com/Bruno Ely

DokterSehat.Com– Salah satu olahraga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh adalah berenang. Akan tetapi, tahukah Anda meski olahraga ini memiliki manfaat, faktanya berenang juga menyimpan risiko berbahaya bagi kesehatan.

Photo Credit: Flickr.com/Bruno Ely

Salah satu risiko yang mungkin dihadapi oleh mereka yang punya hobi berenang adalah infeksi otitis eksterna. Otitis eksterna merupakan peradangan saluran telinga bagian luar dengan gejala utama berupa bengkak, kemerahan, nyeri, dan seperti ada tekanan dari dalam telinga. Otitis eksterna bisa disebabkan oleh bakteri, alergi, atau virus.

Pada umumnya, bakteri ini menginfeksi bagian kulit lembut dari saluran telinga luar yang telah teriritasi oleh air. Karena itulah penyakit otitis eksterna sering disebut swimmer’s ear atau telinga perenang.

Penyebab otitis eksterna

Terdapat banyak penyebab otitis eksterna. Salah satunya adalah bakteri seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas auruginosa, Haemophilus influenza, dan Escherichia coli. Selain itu, otitis eksterna dapat juga bisa disebabkan oleh berbagai hal lain, salah satunya adalah alergi pemakaian obat tetes telinga.

Semakin lanjut umur penderita, maka mikroba penyebab gram negatif semakin berkurang. Sebaliknya, semakin muda umur penderita, maka infeksi mikroba gram positif semakin berkurang. Semakin lama infeksi, maka kuman mikroba gram negatif makin bertambah, sedangkan infeksi gram positif semakin berkurang.

Selain itu, ada sejumlah faktor lain yang dapat membuat risiko Anda terkena otitis eksterna menjadi lebih tinggi, di antaranya:

  • Berenang di tempat yang airnya tidak rutin dibersihkan
  • Tinggal di wilayah lembap
  • Saluran telinga ditumbuhi banyak rambut
  • Mengalami infeksi telinga
  • Produksi kotoran telinga yang sedikit
  • Memiliki saluran telinga dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari ukuran normal

Apa yang harus Anda lakukan?

Telinga memiliki mekanisme pembersihan sendiri sehingga tidak perlu membersihkan kotorannya dengan kapas pembersih telinga atau alat lainnya. Serumin (kotoran telinga) juga memiliki sifat antibakteri yang membantu mencegah infeksi telinga.

Jika Anda berenang secara rutin, pastikan telinga selalu kering usai Anda berenang. Memutarkan kepala dan menarik telinga ke arah yang berbeda juga dapat membantu mengeluarkan air dari telinga.

Dengan menghilangkan kelembapan yang berlebihan pada telinga, Anda dapat menurunkan kemungkinan pertumbuhan bakteri serta menurunkan risiko terjadinya infeksi. Anda dapat menggunakan hair dryer dengan pengaturan udara yang paling dingin pada saluran telinga luar Anda jika basah.

Sementara itu, hal lain yang harus diperhatikan adalah hindari menggunakan cotton bud, tisu atau benda apapun untuk mengeringkan telinga. Bahan-bahan tersebut bukan hanya akan mendorong kotoran pada telinga masuk lebih dalam, tapi juga bisa melukai kulit pada liang telinga dan menyebabkan iritasi.

Penanganan otitis eksterna

Pada umumnya, seseorang yang terkena otitis eksterna akan diresepkan obat tetes telinga dengan kandungan yang telah disesuaikan pada penyebabnya. Misalnya jika infeksi disebabkan oleh jamur, maka dokter akan memberikan obat tetes yang mengandung antijamur. Begitu pula sebaliknya, jika otitis eksterna disebabkan oleh bakteri, maka obat dengan kandungan antibiotik akan diberikan kepada pasien.

Sementara itu, untuk meredakan inflamasi, biasanya dokter akan memberikan obat tetes telinga yang mengandung steroid. Agar penyerapan obat di dalam saluran telinga dapat berfungsi maksimal, maka dokter juga akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan tidak adanya sumbatan akibat gumpalan kotoran, pengelupasan kulit, dan sebagainya.

Jika kotoran tidak dikeluarkan, maka infeksi akan sulit ditangani. Kumpulan kotoran atau debris yang berakumulasi di liang telinga harus dikeluarkan, agar terjadi kontak langsung antara obat antibiotik dengan permukaan kulit.

Siapa yang berisiko terkena otitis eksterna?

Meski aktivitas berenang (terutama di kolam dengan tingkat bakteri yang tinggi) merupakan faktor terbesar penyebab terjadinya otitis eksterna, mandi dan membersihkan terlalu sering juga bisa membuat infeksi pada telinga.

Untuk diketahui, semakin sempit saluran telinga, semakin besar kemungkinan air akan terperangkap di dalamnya. Anak-anak memiliki saluran telinga yang lebih sempit dari telinga orang dewasa sehingga mereka memiliki risiko yang lebih tinggi.

Sementara itu, penggunaan headphone atau alat bantu dengar, serta adanya alergi, eksim, dan iritasi kulit dari produk kosmetik untuk rambut, juga meningkatkan risiko pengembangan infeksi telinga bagian luar. Satu hal yang perlu dicatat, jika Anda menemui seseorang yang mengalami otitis eksterna, janganlah khawatir karena penyakit ini tidak menular.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Waspada Munculnya Bintik Merah Pada Bayi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat-anak-bayi-cacar-air-ruam

DokterSehat.Com– Kulit bayi umumnya masih sangat sensitif hingga ia berusia 6 bulan. Sejak baru lahir sampai usia tersbeut umumnya bayi mengalami beberapa masalah kulit seperti kulit kering, iritasi, dan munculnya bintik-bintik merah. Meskipun umum terjadi, namun kadang bintik merah merupakan gejala suatu penyakit, karena itu pastikan Anda mendapat diagnosis yang benar terhadap gejala tersebut.

Beberapa kondisi munculnya bintik merah yang umum pada bayi antara lain adalah biang keringat, ruam popok dan jerawat bayi. Biang keringat terjadi akibat keringat terjebak di bawah kulit karena pori-pori bayi masih sangat kecil. Biang keringat umumnya terjadi pada cuaca yang panas dan muncul di sekitar leher, ketiak, dada, lipatan siku dan lipatan paha.

Sedangkan ruam popok umumnya terjadi akibat iritasi kulit karena kontak kulit yang terlalu lama terkena urine dan tinja. Ruam popok terjadi di sekitar pantat bayi atau daerah yang tertutupi popok. Jaga kebersihan daerah yang tertutupi popok dan sering-seringlah mengganti popok jika popok terlihat penuh.

Umumnya bintik merah pada bayi memang tidak berbahaya, namun jika bintik merah berkembang menjadi benjolan beirsi cairan buram kekuningan atau bintik merah berubah menjadi keunguan, maka Anda perlu waspada karena bisa jadi tanda suatu penyakit yang serius.

Beberapa kondisi serius penyebab munculnya bintik merah pada kulit bayi antara lain:
1. Cacar air
Dilansir dari babycenter, cacar air merupakan salah satu penyakit yang paling sering diderita oleh balita. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan ditandai dengan bintik merah seperti gigitan nyamuk. Bintik merah aka nsegera berubah menjadi cairan dan terasa sangat gatal. Umumnya gejala ini disertai demam dan bintik menyebar di seluruh tubuh.

2. Penyakit kelima atau fifth disease
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang gejal awalnya ditandai dengan demam, kemudian bintik merah akan semakin memerah. Umumnya bintik ini muncul di sekitar pipi dan pucat di sekitar mulut. Ruam merah dapat menyebar ke seluruh tubuh hingga telapak tangan dan kaki.

3. Meningitis
Jika bintik merah berubah menjadi keunguan, Anda perlu waspada apakah anak Anda menderita meningitis. Gejala lainnya adalah demam, kulit pucat, muntah dan bayi rewel. Gejala ini disebabkan oleh infeksi saraf tulang belakang oleh virus dan bakteri. Segera periksakan jika anak Anda mengalami gejala tersebut.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Busui, Waspada Anemia Saat Masa Menyusui

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat-anemia-kurang-darah-konsultasi

DokterSehat.Com– Kewajiban ibu untuk memenuhi gizi buah hati tercinta bukan hanya belrangsung selama masa kehamilan saja. Hal ini berlanjut hingga setelah bayi lahir dengan memberikan ASI. Untuk menyusui, ibu harus memerhatikan kesehatan dan asupan gizi diri sendiri agar bayi dapat mendapat nutrisi terbaik. Namun terkadang ibu mengalami masalah kesehatan sehingga menyusui tidak maksimal. Salah satu gangguan kesehatan yang sering dialami ibu menyusui adalah anemia atau kekurangan darah.

Anemia adalah kondisi kurangnya sel darah merah atau hemoglobin. Seringkali anemia terjadi tanpa disadari, Beberapa gejala umum anemia antara lain mudah lelah, lemas, pucat, pusing dan nafas pendek-pendek. Bagi ibu yang baru saja melahirkan gejala ini sering dianggap kelelahan biasa karena merawat bayi sehingga banyak yang tidak menyadari bahwa ia mengidap anemia.

Jika tidak segera ditangani, anemia dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayinya. Selain itu beberapa bahaya anemia lainnya seperti dikutip dari laman babycenter antara lain:
1. Depresi setelah melahirkan karena menurunnya energi dan stamina ibu.
2. Kekebalan ibu menurun sehingga dapat menyebabkan saluran ASI tersumbat dan menyebabkan peradangan pada kelenjar susu.
3. Meningkatnya risiko anemia pada bayi yang diberi ASI.
4. Bayi berisiko kehilangan periode emas dalam hidupnya yaitu usia 0-2 tahun.

Untuk dapat memastikan apakah anda mengalami anemia atau tidak, sebaiknya segera periksakan diri Anda ke dokter. Anemia dapat diatasi dengan mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan zat besi dan asam folat seperti daging, ikan, telur, hati, sayuran hijau, kacang-kacangan, sereal dan gandum. Dalam sehari, ibu menyusui membutuhkan sekitar 10 mgzat besi alam tubuh. Jika diperlukan, Anda dapat mengonsumsi suplemen penambah darah untuk menambah zat besi dalam tubuh.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Bukan Dot, Ini yang Harus Digunakan untuk Memberikan ASI Perah

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat-susu-anak-minum-dot

DokterSehat.Com– Memberikan ASI pada bayi bukan suatu pekara mudah. Ada berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam misalya asupan makanan ibu, lancar atau tidaknya produksi ASI dan kesibukan ibu. Namun ada pula satu hal lain yang cukup memengaruhi pemberian ASI yaitu ASI perah.

Pemberian ASI perah memerlukan perhatian yang cukup besar. Hal ini disebabkan ASI perah membutuhkan penangan khusus mulai dari penyimpanan, persiapan dan pemberian ASI pada bayi. Pemberian ASI perah pada bayi harus dilakukan dengan tepat agar bayi dapat terpenuhi kebutuhan gizinya.

Pada Pedoman Gizi Seimbang untuk bayi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI penggunaan dot untuk ASI perah tidak dianjurkan karena bayi akan mengalami bingung puting. Untuk menghindari kondisi tersebut ada beberapa media selain dot yang dianjurkan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) untuk digunakan ibu dalam memberikan ASI perah.

Beberapa media tersebut adalah:

  • Sendok
  • Pemberian ASI perah melalui sendok cukup mudah diterapkan karena sendok adalah media yang mudah ditemukan. Seiring dengan berkembangnya produk yang membantu menyusui, ada beberapa bentuk botol yang ujungnya bukan dot melainkan sendok. Hal ini akan memudahkan ibu dalam pemberian ASI perah menggunakan sendok.

  • Pipet
  • Pipet khusus yang digunakan dalam pemberian ASI perah sebaiknya pipet yang menggunakan plastik. Cara penggunaan pipet mirip seperti dot namun ASI perah diteteskan didekat mulut bayi.

  • Softcup Feeder
  • Media ini memiliki bentuk yang miri pipet dengan ukuran yang lebih besar dan ujung pipetnya lebar seperti sendok besar. Pemberiannya adalah degan menekan ujung tabung dan bayi meminum ASI perah dari ujung pipet yang lebar.

  • Gelas atau cup feeder
  • Pemberian ASI perah menggunakan gelas perlu dilakukan dengan hati-hati. Pada penggunaan gelas jumlah ASI perah yang keluar kurang dapat diatur jika dibandingkan dengan media lain. Maka dari itu ibu harus memerhatikan penggunaan gelas pada ASI perah dengan lebih seksama.

Pemberian ASI perah dengan cara yang tepat akan mendukung keberlangsungan pemberian ASI. Maka dari itu media yang tepat untuk pemberian ASI perah harus dipilih sesuai penerimaan bayi. Kira-kira ibu akan memberikan ASI perah melalui media yang mana?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kenali 7 Jenis Plastik Ini untuk Mencegah Kanker

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

simbol-daur-ulang-doktersehat

DokterSehat.ComPlastik telah digunakan dalam segala hal, mulai dari peralatan rumah tangga, industri, pusat perbelanjaan hingga sekolah. Plastik menjadi tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, tahukah Anda bahwa plastik memiliki potensi risiko pada kesehatan.

Untuk menghindari penggunaan plastik sama sekali sulit bahkan tidak mungkin dilakukan. Jadi jenis plastik apa yang relatif aman dan plastik apa yang menyebabkan kanker?

Ini adalah pertanyaan umum yang dilontarkan oleh orang-orang yang berpikiran sehat, saat mereka memeriksa produk yang mereka gunakan dan bertanya-tanya apakah mereka harus terus-terusan minum air dari botol plastik, atau mengonsumsi makanan yang tersimpan di dalam wadah plastik.

Ini adalah pertarungan kenyamanan versus toksisitas, tapi ilmu yang bisa membantu menengahi.

Society of the Plastic Industry (SPI) menciptakan sistem klasifikasi pada 1988 yang membedakan antara tujuh plastik yang paling umum digunakan konsumen. Klasifikasi daur ulang bergambar segi tiga ini tertera di bagian produk atau kemasan makanan berbahan plastik, seperti melansir The Truth About Cancer berikut ini:

  • 1: PETE atau PET (polyethylene terephthalate)
  • 2: HDPE (high-density polyethylene)
  • 3: PVC (polyvinyl chloride)
  • 4: LDPE (low density polyethylene)
  • 5: PP (polypropylene)
  • 6: PS (polystyrene atau styrofoam)
  • 7: Lainnya (termasuk polikarbonat dan polilaktida)

Masing-masing jenis plastik ini dilengkapi dengan serangkaian risikonya sendiri, namun beberapa di antaranya jauh lebih aman daripada yang lain.

Kategori pertama, PETE atau PET, adalah bahan plastik biasa yang sering digunakan untuk menyimpan minuman. Ini dianggap sebagai plastik dengan risiko lebih tinggi, yang ditujukan untuk penggunaan tunggal hanya karena berpotensi melepaskan logam berat dan bahan kimia lainnya ke dalam cairan.

Peneliti Jerman menemukan kembali pada 2009 bahwa plastik PET mirip dengan bahan kimia bisphenol-A (BPA) yang terkenal karena dapat mengganggu ekspresi dan produksi hormon yang tepat. Konsekuensi dari paparan semacam itu, jika dibiarkan, dapat meningkatkan risiko terkena kanker.

Kategori ketiga, PVC, juga menimbulkan peningkatan risiko kanker dan masalah kesehatan lainnya. Sering digunakan dalam plastik pembungkus makanan, wadah minyak goreng, dan mainan untuk hewan. PVC diklasifikasikan oleh Environmental Protection Agency (EPA) sebagai “perhatian utama” ketika menghadapi risiko kanker.

Lalu ada kategori 6, polystyrene, yang diakui sebagai karsinogen manusia yang mungkin. Juga dikenal dengan nama merek Styrofoam, bahan plastik ini adalah bahan pokok untuk kemasan dan wadah makanan cepat saji, dan penelitian telah menghubungkannya dengan masalah kesehatan reproduksi.

Penelitian dari Harvard University menunjukkan paparan terhadap polystyrene dapat menyebabkan fungsi paru abnormal, kerusakan kromosom, dan berbagai jenis kanker.

Plastik yang Mengandung HDPE dan LDPE
Yang terbaik adalah hanya menggunakan plastik HDP atau HDPE dan LDPE, untuk meminimalkan risiko masalah kesehatan Anda. Plastik HDPE paling sering digunakan pada karton susu dan botol deterjen, sementara LDPE sering digunakan dalam plastik shrink wrap, kantong plastik, dan botol bumbu.

Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam (NRDC) juga berpendapat bahwa plastik PP juga merupakan pilihan yang lebih aman, namun perlu dicatat bahwa survei yang dilakukan oleh Milwaukee Journal Sentinel menemukan bahwa makanan “microwave safe” yang dibungkus dalam kemasan PP masih mengandung BPA terlarut.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tips Mengatasi Anak Takut Jarum Suntik

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Sama halnya dengan orang dewasa, setiap anak memiliki ketakutannya sendiri. Ada yang takut dengan badut, namun ada juga yang takut dengan jarum suntik. Pada anak yang takut dengan jarum suntik, kadang hal ini cukup mengganggu ketika anak harus menjalani imunisasi atau pengobatan dari dokter.

Untuk mengatasi ketakutan anak pada jarum suntik, Anda dapat melakukan beberapa cara berikut ini:

1. Jelaskan yang sebenarnya
Saat menjelaskan tentang jarum suntik pada anak, katakan bahwa disuntik memang sakit, namun tindakan pengobatan melalui suntikan atau imunisasi bukan bertujuan untuk menyakiti anak, melainkan untuk menyembuhkan. Jelaskan bahwa rasa sakit akibat disuntik hanya terasa sebentar dan lambat laun akan hilang.

2. Waktu yang tepat
Sebaiknya jelaskan pada anak tentang jarum suntik sehari atau beberapa jam sebelum jadwal imunisasi tiba. Jika Anda menjelaskannya terlalu awal, kemungkinan anak akan memendam rasa takutnya selama berhari-hari. Hal ini akan membuat anak tegang dan stres.

“Jangan bicara terlalu rinci pada anak karena dapat membuat anak khawatir. Ada baiknya Anda mulai menjelaskan jarum suntik ketika anak Anda bertanya tentang hal tersebut atau beberapa saat sebelum suntikan (pengobatan) terjadi,” jelas Ari Brown, M.D., dokter konsultan untuk laman Parents dan penulis buku.

3. Meminta krim bius
Jika anak Anda benar-benar merasa ketakutan dengan rasa sakit, beberapa ahli menyarankan agar Anda meminta krim anestesi untuk membuat kulit terasa mati rasa. Selama proses penyuntikan, Anda bisa mengalihkan perhatian anak dengan membuat ekspresi wajah yang lucu, bermain, atau menyanyikan lagu kesukaannya.

4. Berikan pujian atau hadiah
Pertimbangkan untuk memberikan pujian atau hadiah saat anak Anda bersikap baik dan kuat melakukan imunisasi meskipun disertai dengan tangisan berderai. Hal ini memberi rasa positif pada anak dan membantunya lebih lega dan tenang setelah menerima suntikan.

5. Antisipasi efek samping
Beberapa efek samping suntikan antara lain merasa ngilu, timbul ruam dan demam yang dapat mengganggu kenyamanan si kecil. Untuk meredakannya, Anda bisa mengompresnya dengan handuk dingin atau memberinya obat pereda demam dan nyeri.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Harus Berapa Lama Kita Berjemur agar Tidak Kekurangan Vitamin D?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Negara yang terpapar sinar matahari sepanjang tahun, seperti Indonesia, disebut-sebut aman dari kekurangan vitamin D. Padahal kejadian kekurangan vitamin D dari berbagai penelitian dan survei di Indonesia ternyata masih saja ada. Jika sudah begitu, apakah kita masih boleh merasa aman dari kekurangan vitamin D?

Vitamin D dapat diperoleh tubuh dari paparan sinar matahari dan pemilihan bahan makanan yang kaya vitamin D. Menurut Almatsier dalam buku Prinsip Dasar Ilmu Gizi, jika kita cukup terpapar sinar matahari maka kekurangan vitamin D bukan lagi menjadi suatu masalah. Maka dari itu jika kita ingin memenuhi kebutuhan vitamin D, tubuh kita harus terpapar oleh sinar matahari secara tepat.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Tarumanegara, paparan sinar matahari yang bisa memberikan vitamin D pada tubuh kita bukan paparan sinar matahari pada semua jam. Sinar matahari yang dibutuhkan tubuh untuk memenuhi kebutuhan vitamin D adalah paparan matahari dengan sinar ultraviolet B (UV B).

Paparan sinar matahari UV B ini mampu mengubah vitamin D menjadi lebih mudah diserap oleh tubuh. Sinar UVB akan menjadi pengubah molekul vitamin D3 menjadi bentuk preformed vitamin, dimana bentuk ini yang akan membantu penyerapan vitamin D untuk tubuh. Sehinga paparan sinar matahari untuk tubuh kita harus terkandung UVB didalamnya.

Untuk memenuhi kebutuhan vitamin D tubuh kita dari sinar matahari, kita harus mengetahui waktu, durasi dan frekuensi yang tepat untuk terpapar sinar matahari. Waktu yang tepat untuk memperoleh sinar matahari dengan kadar UVB yang tinggi adalah pukul 09.00-15.00. Selama rentang waktu tersebut kita diajurkan terpapar sinar matahari dengan durasi 15 menit. Hal itu dapat kita lakukan dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu.

Nah, sekarang anda sudah tahu harus berapa lama terpapar sinar matahari agar tidak kekurangan vitamin D. Jadi, tunggu apa lagi, yuk berjemur!



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Baking Soda Bisa Tebak Kelamin Bayi dalam Kandungan, Begini Caranya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

prediksi-kelamin-bayi-doktersehat
Photo Credit: Mom Junction

DokterSehat.Com– Ada banyak kepercayaan tradisional tentang bagaimana orangtua bisa mengetahui jenis kelamin bayi mereka sebelum melahirkan. Tes gender baking soda adalah metode yang mudah dan hemat biaya, tapi apakah itu berhasil?

Orang mungkin tidak mau mencoba tes ini, tapi ada juga yang tidak ada salahnya mencoba. Namun, ada banyak cara konklusif lainnya bagi calon orangtua untuk menentukan jenis kelamin anak mereka yang belum lahir.

doktersehat-hamil-kehamilan-anak-laki

Apa itu tes gender baking soda?
Tes gender baking soda adalah metode di rumah yang melibatkan penggabungan urine wanita hamil dengan baking soda untuk melihat apakah reaksinya mendesis. Apakah campuran urin dan baking soda bisa mengetahui bayi dalam kanduang laki-kali atau perempuan.

Tes gender baking soda, seperti melansir Medical News Today, benar-benar untuk mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungan. Jenis kelamin mengacu pada susunan genetik dan biologi mereka, sedangkan gender mengacu pada perbedaan sosial dan budaya yang berkembang dari waktu ke waktu.

Baking soda bereaksi dengan asam, menyebabkan beberapa asam menyebabkan gelembung dan dan mendesis. Teori di balik tes ini adalah bahwa keasaman atau pH urine wanita hamil, akan berubah berdasarkan jenis kelamin bayi yang belum lahir.

Namun, tidak ada bukti bahwa jenis kelamin bayi yang belum lahir memiliki efek pada pH urine wanita. Selain itu, banyak faktor lain yang diketahui bisa membuat urine wanita kurang atau lebih asam.

Cara melakukan tes gender baking soda
Seorang wanita yang ingin mencoba tes ini harus menampung urine dalam wadah bersih saat pertama kali menggunakan kamar mandi di pagi hari.

Urine pagi pertama ini harus digunakan untuk tes karena urine wanita bisa menjadi encer saat ia minum cairan sepanjang hari.

baking-soda-doktersehat
Photo Credit: leaf.tv

Penting untuk mencuci tangan dengan saksama sebelum menampung urine. Untuk menampungnya, seorang wanita bisa berjongkok di atas toilet dan menadah urine di bawahnya.

Langkah selanjutnya adalah menambahkan baking soda dalam jumlah yang sama ke dalam urine dan mencari apakah air kencingnya mendesis atau tetap sama.

Menafsirkan hasilnya
Salah satu dari dua hal tersebut akan terjadi saat baking soda ditambahkan ke urine. Urine akan mendesis atau tetap sama.

Jika urine mendesis, maka wanita itu sedang mengandung anak laki-laki. Jika urine tetap sama, itu menunjukkan dia akan memiliki anak perempuan.

Apakah hasilnya akurat?
Sayangnya, hasil uji gender baking soda hanya akurat sekitar 50 persen, tidak lebih akurat daripada lemparan koin. Banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi pH urine wanita, termasuk:

  • Diet
  • Tingkat hidrasi
  • Infeksi saluran kemih
  • Batu ginjal

Karena begitu banyak variabel memengaruhi tingkat pH urine, wanita mungkin mendapatkan hasil yang berbeda pada hari yang berbeda jika dia menjalani tes lebih dari satu kali.

Metode yang dapat diandalkan
Bagi wanita hamil yang ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka sebelum lahir, masih banyak cara yang dapat diandalkan untuk melakukannya daripada tes baking soda.

Beberapa cara akurat untuk menentukan jenis kelamin bayi yang belum lahir meliputi:

  • USG
  • Tes darah DNA
  • Amniosentesis
  • Chorionic villus sampling (CVS)
  • Ultrasound

Ketika anatomi ultrasound dilakukan sekitar 20 minggu kehamilan, dokter atau teknisi ultrasound biasanya dapat melihat semua anatomi bayi, termasuk alat kelamin mereka. Mendapatkan gambar yang bagus mungkin akan sulit jika bayi berada dalam posisi yang tidak biasa.

Studi telah menunjukkan bahwa ultrasound 2-D sangat akurat dalam mengetahui jenis kelamin bayi. Satu studi menunjukkan tingkat akurasi 98,2 persen. Hasil yang tidak akurat dalam penelitian ini terjadi ketika dua bayi laki-laki salah didiagnosis sebagai wanita.

 



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Apa Penyebab Bau Mulut Pada Anak?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat-anak-kecil-tersedak

DokterSehat.Com– Penyakit bau mulut merupakan gangguan kesehatan yang bisa terjadi di segala usia, termasuk anak-anak. Umumnya bau mulut pada anak disebabkan karena kebersihan gigi dan mulut yang kurang terjaga. Namun ada juga penyebab bau mulut lainnya yang perlu Anda ketahui.

Disari dari laman Parenting, berikut ini beberapa penyebab bau mulut pada anak:
1. Infeksi sinus
Jika bau mulut disertai dengan pilek, hidung tersumbat, adanya lendir kuning saat mengeluarkan ingus, sering batuk, dan anak mudah lelah, ada kemungkinan anak Anda mengalami infeksi sinus. Infeksi sinus menghasilan cairan yang menumpuk di saluran hidung dan tenggorokan yang menyebabkan area tersebut menjadi tempat yang baik bagi perkembangan bakteri. Segera bawa ke dokter jika anak mengalami gejala ini untuk pemeriksaan lebih lanjut.

2. Amandel yang membengkak
Sebagai pemeriksaan awal, ambil senter untuk melihat kondisi amandel anak dengan jelas. Amandel yan gsehat berwarna merah muda seperti rongga mulut yang lain. Jika terlihat merah, membengkak dan memiliki bintik putih kemungkinan terjadi radang amandel. Bakteri yang ada dalam amandel juga bisa menyebabkan bau mulut yang mengganggu.

3. Mulut kering
Anak-anak umumnya sangat aktif hingga mengalami dehidrasi. Bau mulut pada anak yang sering melakukan aktivitas outdoor juga dapat disebabkan oleh kekurangan cairan dalam tubuh. Jika anak tidak mendapatkan cairan yang cukup, mulutnya akan memproduksi air liur yang lebih sedikit untuk membasuh bakteri penyebab bau mulut di dalam rongga mulut. Selain itu kondisi mulut yang kering juga dapat mengarah pada kerusakan gigi dan gigi berlubang.

4. Naiknya asam lambung
Jika bau mulut disertai dengan mual, kemungkinan asam lambung Anda akan naik. Gejala ini diikuti dengan sering meludah, tidak tenang saat tidur dan kondisi perut yang tidak nyaman. Atasi hal ini dnegan membuat anak duduk tegak dan tidak banyak bergerak setidaknya setengah jam setelah makan.

Untuk mengatasi bau mulut pada anak, pastikan anak-anak rutin menjaga kebesihan mulut dan giginya dengan gosok gigi sehari minimal dua kali sehari saat sehabis makan dan sebelum tidur. Anda juga perlu memastikan anak Anda selalu tercukupi kebutuhan cairannya. Jika ada gangguan kesehatan dalam area gigi dan mulut segera periksakan ke dokter untuk mendapat penanganan.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Ini 3 Hal yang Perlu Diperhatikan saat Menyimpan ASI Perah

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat-asi-ibu-menyusui-anak-cerdas

DokterSehat.Com– ASI merupakan satu-satunya makanan yang dapat melengkapi kebutuhan zat gizi bayi. ASI yang tidak diberikan langsung dari payudara ibu akan rentan mengalami penurunan kualitas jika tidak disimpan dengan benar. Sehingga ibu harus mengetahui bagaimana cara penyimpanan ASI yang diperah agar kualitasnya terjaga.

ASI perah menjadi salah satu pilihan untuk memberikan ASI pada bayi di sela-sela kesibukan ibu. Pemberian ASI perah tidak hanya untuk mendukung ASI eksklusif saja namun juga dapat diberikan untuk bayi diatas 6 bulan. Selama masa pemberian ASI perah itu cara penyimpanan ASI perah yang benar akan sangat mendukung terjaganya kualitas ASI.

Dalam menyimpan ASI perah adau dua hal yang perlu diperhatikan antara lain wadah yang digunakan dan cara penyimpanan. Menurut Kementerian Kesehatan RI dalam Pedoman Gizi Seimbang untuk bayi 0-12 bulan, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan ASI perah adalah:

  • Wadah ASI perah
  • Gunakan wadah ASI perah yang bersih. Setelah wadah dicuci, disarankan untuk menuangkan air mendidih terlebih dahulu ke dalam wadah untuk membunuh bakteri.

  • Tempat penyimpanan
  • ASI perah sebaiknya disimpan pada tempat dengan suhu yang dingin agar kualitasnya terjaga. Umumnya kita meletakkan ASI di lemari pendingin atau freezer. Namun jika tidak ada lemari pendingin ASI perah bias diletakkan di dalam termos berisi es. Ketiga tempat penyimpanan tersebut sama baiknya namun lama penyimpanan ASI pada masing-masing tempat berbeda. Jika ASI perah yang tidak disimpan di tempat bersuhu dingin (suhu ruang) maka penyimpanan tidak bisa dilakukan dalam waktu lama dan harus segera diberikan pada bayi.

  • Lama penyimpanan
  • Lama penyimpanan ASI berdasarakan tempat penyimpanannya:
    – Dalam suhu ruang ASI perah akan terjaga kualitasnya jika diberikan pada bayi sebelum 6-8 jam.
    – Pada lemari pendingin ASI dapat disimpan selama 3-8 hari
    – ASI perah yang diletakkan di freezer dapat disimpan selama 3-6 bulan
    – ASI yang diletakkan di termos berisi es dapat bertahan dalam jangka waktu 24 jam.

Kualitas ASI yang baik akan mendukung pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi bayi. Agar ASI yang diberikan ibu berkualitas, maka selalu perhatikan cara penyimpanan ASI perahnya ya.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.